Tidak ada teror dan kekejaman yang lebih tragis dalam sejarah Islam dibandingkan dengan apa yang diperbuat oleh bangsa Mongol. Laksana avalanche, pasukan Jenghiz Khan menggasak habis seluruh pusat peradaban dan kebudayaan Islam, mereka selalu meninggalkan puing-puing berantakan di setiap tempat yang mereka lalui, dimana sebelumnya berdiri istana-istana, kota dengan taman-taman yang indah dan kebun-kebun gandum yang subur. Ketika tentara Mongol bergerak meninggalkan kota Heart, hanya tersisa 40 orang yang hidup dari 100.000 penduduknya. Bukhara yang terkenal dengan alim ulamanya, mengalami nasib yang sama, masjid diinjak-injak, al-Qur’an dan kitab-kitab agama dijadikan kayu bakar, seluruh kota diratakan dengan bumi, orang-orang yang tidak terbunuh alias masih hidup, digiring sebagai tawanan dan budak. Demikian juga halnya kota demi kota lain di Asia Tengah, yang pada waktu itu telah mencapai tingkat kebudayaan yang tinggi sebagai pusat-pusat peradaban Islam, mengalami kehancuran yang sukar digambarkan : Samarkand, Balkh, bahkan Baghdad yang berabad-abad menjadi ibukota dinasti Abbasiyah.

Para ahli sejarah sendiri sulit memilih kata-kata untuk melukiskan kekejaman dan kebiadaban tentara Mongol di satu pihak serta nasib malang tanpa ampun yang diderita umat Islam, yang berabad-abad membina peradaban manusia dengan cara-cara damai, begitu saja dalam sekejap mata musnah ludes. Demikian misalnya penulis Ibn al-Atsir bertahun-tahun lamanya tidak sanggup membicarakan kejadian itu.

Bahkan sekarang pun saya masih merasa enggan, siapakah yang sanggup menyanyikan lagi kematian Islam, siapakah yang mampu menceritakan kisah ini? Lebih baik rasanya tidak dilahirkan oleh ibu! Oh, lebih baik saya mati sebelum ini, untuk dilupakan sama sekali! Tetapi mengingat banyak sahabat yang memberi dorongan dan sayapun berpendapat tidak ada gunanya menunda-nunda tugas ini lebih lama lagi, maka di sini saya ringkaskan. Pertama-tama saya harus menegaskan bahwa kengerian dan malapetaka demikian tidak ada duanya dalam sejarah. Betul setiap bangsa atau peradaban bisa saja mengalami keruntuhannya, tetapi keruntuhan yang menimpa umat Islam adalah luar biasa. Apabila orang mengatakan bahwa sejak Tuhan menciptakan Adam, dunia ini belum pernah menyaksikan kehancuran seganas itu, maka perkataan itu sungguh benar, sebab sejarah tidak dapat membandingkannya dengan peristiwa mana pun juga. Di antara malapetaka yang paling mengerikan dalam sejarah dalam penjagalan yang dilakukan oleh Nebuchadnezzar terhadap bangsa Israel dan penghancuran kuil Yahudi. Tetapi apalah artinya Jerussalem dibandingkan dengan luasnya wilayah peradaban Islam yang menjadi sasaran kekejaman Jenghiz Khan, tiap kotanya adalah lebih besar dari Jerussalem, dan warga setiap kotanya yang dibinasakan jauh lebih banyak dibandingkan dengan seluruh bangsa Israel pada saat itu. Kita berharap kejadian itu tida berulang lagi.

Akan tetapi Islam segera bangkit dari keruntuhannya, dan para da’inya malah dapat menundukkan pihak penakluk yang ganas-ganas itu untuk masuk Islam. Sungguh tugas da’wah ini adalah salah satu tugas yang paling berat, mengingat saat itu ada dua saingan yang kuat, yaitu agama Buddha dan Kristen. Persaingan ketiga agama ini (Islam, Buddha, Kristen) ini untuk mempengaruhi kaum penyerbu yang biadab itu tercatat sebagai persaingan yang paling menegangkan dalam sejarah penyiaran agama di dunia ini.

Sebelum membicarakan jalannya persaingan ini, perlu ditinjau sejenak perpecahan Imperium Mongol setelah meninggalnya Jenghiz Khan menjadi empat bagian yang masing-masing dikuasai oleh putra-putranya. Wlayah sebelah Timur dikuasai oleh Ogtay, putra ketiga, dimana kemudian Kubilai Khan meluaskan wilayah tersebut meliputi seluruh China. Wilayah Tengah dikuasai oleh putra kedua, Chagtay. WIlayah Barat dikuasai oleh Batu, cucu atas putra dari putra tertua, Juji; sedang putra keempat, Tuluy, menguasai Persia, dimana Hulagu, pendiri Dinasti Ilkhan, menambah luasnya dengan menguasai sebagian besar Asia Kecil.

Agama bangsa Mongol semula adalah Shamanisme, yang meskipun mereka mengakui adanya Yang Maha Kuasa, tetapi mereka tidak beribadah kepada-Nya, melainkan menyembah kepada arwah, terutama roh jahat, yang karena mampu mendatangkan bencana, mereka jinakkan dengan sajian-sajian, di samping itu sangat dimuliakan arwah nenek moyang yang mereka anggap masih berkuasa mengatur hidup keturunannya. Semua bentuk peribadatan ini dipimpin oleh kepala agama merangkap dukun, yaitu Shaman yang dianggap memiliki kekuatan ghaib dan sanggup berkomunikasi dengan roh orang yang sudah mati. Agama seperti ini tentulah tidak sanggup bertahan menghadapi agama-agama da’wah yang memiliki teologi yang sistematis sesuai dengan tuntuntan logika di samping adanya guru-guru agama yang terorganisir. Maka ketika orang-orang Mongol berkenalan dengan agama-agama yang lebih teratur seperti Buddha, Kristen, apalagi Islam, mereka segera terpengaruh dan meninggalkan agama Syaman. Terlepas dari keganasannya, bangsa Mongol sebenarnya memiliki jiwa yang toleran. Para pemimpin agama lain dibebaskan dari pajak, bebas pula melakukan peribadatannya, ulama-ulama Buddha boleh saja berdebat dengan dukun Shaman di depan Jenghiz Khan, sedang istana Mangu Khan dan Kubilai Khan memberi perlindungan kepada ulama-ulama Buddha, Kristen, dan Islam. Pada masa-masa terakhir bangsa Mongol mulai tenggelam dalam pengaruh agama Buddha dan pada awal abad ke-14 agama ini telah menguasai penuh seluruh keturunan mereka. Para Dalai Lama di Tibet-lah yang paling berjasa dalam hal ini, sehingga Mongolia sekarang masih tetap menganut agama Buddha, demikian pula bangsa Kalmuk yang bermigrasi ke Rusia pada abad ke-17.

Meskipun agama Buddha akhirnya menguasai bagian Timur Imperium Mongol, tetapi pada mulanya pengaruh agama Kristen pun turut mengambil peranan, terutama dari sekte Nestoria, dimana pada abad ke-7 misionaris-misionarisnya telah menjelajah dari Barat melalui Asia sampai ke China Utara, dan kelompok-kelompok masyarakat Krsiten masih terdapat di beberapa tempat di sana sampai abad ke-13. Prester John yang terkenal hikayatnya pada abad pertengahan itu diduga adalah pemimpin suku Karait, suatu puak dari kabilah Tartar yang beragama Kristen yang tinggal di sebelah Selatan Danau Baikal. Ketika suku ini ditaklukkan oleh Jenghiz Khan, dia mengawini puteri kepala suku, demikian pula putranya Ogtay mengawini gadis dari keluarga yang sama. Putra Ogtay, Kuyuk, meskipun belum menganut agama Kristen namun sangat menghormati agama itu, dimana menteri dan sekretarisnya adalah orang-orang Kristen. Pendeta-pendeta Nestoria sangat dihormati di kalangan istana dan dia juga menerima duta besar dari Paulus Innocenti IV. Umat Kristen di Barat dan Timur memang mengharapkan bantuan Mongol dalam peperangan melawan umat Islam.

Tidak kurang dari Hayton, raja Armenia yang beragama Kristen berusaha memengaruhi Mangu Khan untuk mengirim pasukan menghancurkan Baghdad di bawah pimpinan Hulagu, yang karena pengaruh istrinya yang beragama Kristen, sangat bersimpati kepada pihak Kristen, terutama sekte Nestoria. Banyak orang Mongol yang tinggal di Armenia dan Georgia menjadi penganut Kristen. Hikayat kebesaran dan keagungan Prester John pada abad pertengahan itu telah menimbulkan kesan bahwa bangsa Mongol adalah penganut Kristen. Kesan ini diperkuat dengan laporan-laporan palsu yang disampaikan ke Eropa tentang adanya beberapa bangsawan Mongol yang masuk Kristen. Atas laporan palsu inilah St.Louis mengutus seorang pendeta bernama William Rubruck untuk menjajagi Raja Khagan dalam rangka mengharapkan bantuannya menyebarkan agama Kristen. Kepalsuan itu segera diketahui, namun demikian William Rubruck memang benar menemukan bahwa orang-orang Mongol cukup toleran, bahkan dengan adanya beberapa orang Mongol yang masuk Kristen telah menimbulkan optimisme di pihak Kristen mengharapkan kemenangan yang lebih luas. Tetapi selama sekte Latin, Yunani, Nestoria, dan Armenia terus membawa perbedaan pandangan teologi ke tenga-tengah perkemahan Mongol,  tidak banyak hasil yang mereka peroleh, dan sementara mereka bertengkar satu sama lain, Buddha dan Islam terus memperkokoh pengaruhnya di tengah-tenga bangsa Mongol. Keangkuhan Roman Pontif menyebabkan pihak penakluk dunia itu menarik kembali simpatinya yang semula telah mulai diperlihatkannya dan di samping itu banyak lagi faktor-faktor lain yang menyebabkan gagalnya misi Katholik.

Di pihak Nestoria terlihat pula adanya sikap apatisme. William Rubruck yang menyaksikan kondisi Nestoria di China menyebutkan bahwa mereka sangat bodoh dan tidak mampu memahami isi kitab-kitab agama yang tertulis dalam bahasa Syria. Mereka katanya sukam mabuk, berpoligami, dan perbedaan hidup mereka sangat menyolok dibandingkan dengan pendeta-pendeta Buddha. Bishop sangat jarang menemui jamaahnya, kadang-kadang sekali dalam 50 tahun, sementara pendeta-pendetalebih senang mencari harta daripada mengembangkan agama.

Di bagian Barat Imperium Mongol, dimana pihak Kristen mengharapkan kekuatan baru itu untuk membantu mereka menaklukkan kaum Muslimin dan merebut Tanah Suci Jerussalem, ternyata persekutuan mereka dengan Dinasti Ilkhan di Persia berjalan hanya sebentar saja, sebab kemenangan suku Baybar dengan Sultan Mamluk dari Mesir (1260-1277) dan persekutuannya Baraka Khan telah memaksa Ilkhan untuk berpikir lain. Ekses-ekses yang ditimbulkan oleh kaum Kristen Damaskus dan kota-kota lain yang mereka kuasai selama mendapat dukungan dari Dinasti Mongol Persia hanya berakibat mendiskreditkan nama Kristen di Asia Barat.

Dalam usaha mengembangkan agama sudah barang tentu para penganutnya kadangkala juga berbuat salah. Satu contoh misalnya, seperti diceritakan oleh ahli sejarah Al-Juzjani, terjadi pada pertengahan abad ke-13. cerita itu sendiri langsung didengarnya di Delhi dari seorang bernama Sayyid Ashrafuddin orang Samarkand :

“Salah seorang Kristen Samarkand dengan kesadaran sendiri masuk Islam, dan kaum Muslimin sangat gembira dan menyambut saudaranya yang baru itu dengan penuh penghormatan.Kebetulan salah seorang penguasa Mongol China tiba pula di Samarkand. Orang-orang Kristen di kota itu mengadu kepadanya : “Orang-orang Islam telah menarik anak-anak kami untuk berpaling dari agama Kristen dan menyembah Jesus, mengajak mereka supaya mengikuti agama Mustafa dan bila hal ini tidak dihentikan, akan habislah seluruh keturunan kami meninggalkan agama Kristen. Kami mohon kiranya kekuasaan tuan akan dapat menyelesaikan hal ini. Orang Mongol tersebut segera memerintahkan pemuda Kristen yang masuk Islam tadi supaya dihadapkan kepadanya.

Dengan lemah-lembut dan menggunakan pengaruh uang dia membujuk pemuda itu untuk kembali ke agama Kristen, tetapi tidak berhasil sebab pendiriannya tetap mantap di dalam Islam. Keteguhan hati dan iman pemuda itu telah menyebabkan penguasa Mongol itu marah dan malu, lalu mulai bertindak keras, memaksa pemuda tersebut agar murtad. Kekerasan dan siksaan juga tidak mempan, akhirnya dia pun diseret dan dihukum di depan umum sampai menemui ajalnya, mati syahid – semoga Allah menerimanya.

Peristiwa tersebut sangat menusuk perasaan kaum Muslimin, para pemimpin mereka segera bermusyawarah dan mengambil kesimpulan melaporkan hal itu kepada Raja Baraka Khan. Raja ini menaruh simpati pada Islam, memerintahkan sepasukan Turki untuk mengambil tindakan balasan terhadap orang-orang Kristen yang melanggar hukum itu. Setelah mandate tersebut diterima, mereka menunggu saat orang-orang Kristen berkumpul di gereja, dan terjadilah pembunuhan massal dan penghancuran gereja.

Adalah sulit bagi kaum Muslimin untuk bersaing dengan kaum Buddha dan Kristen pada zaman berkuasanya Mongol, mengingat bahwa kaum Muslimin baru saja mengalami pukulan yang lebih berat dibandingkan dengan apa yang dialami oleh penganut agama-agama lain. Kota-kota yang tadinya merupakan pusat-pusat ilmu hampir semuanya menjadi puing-puing, para ulama dan sarjana Muslim kalau tidak mati disembelih pastilah menjadi tawanan dan budak. Di antara penguasa Mongol tidak kurang pula yang benci kepada kaum Muslimin. Jenghiz Khan misalnya, telah memerintahkan membunuh siapa saja yang menyembelih hewan dengan cara-cara Islam, malah Kubilai Khan memberi hadiah kepada orang yang bersedia melaporkan mereka yang menyembelih hewan secara Islam itu, sehingga selama tujuh tahun banyak orang-orang miskin mencari kesempatan menjadi pelapor, demikian pula budak-budak menuduh tuannya untuk memperoleh kebebasan. Selama pemerintahan Kuyuk (1246-1248) yang menyerahkan urusan pemerintahan kepada dua menteri yang beragama Kristen, maka nasib orang-orang Islam benar-benar amat menderita.

Historikus al-Juzjani memberikan gambaran bagaimana pengalaman ulama Islam di dalam istana Kuyuk :

“Dari orang-orang yang layak dipercaya diperoleh cerita bahwa Kuyuk selalu mendapat hasutan dari pendeta-pendeta Buddha untuk menekan dan menghukum orang-orang Islam. Ada seorang imam – ulama Islam di negeri itu, bernama Nuruddin al-Khwarazmi. Sejumlah pendeta Kristen dan Buddha mengajukan perdebatan, dia harus dapat membuktikan ketinggian ajaran Islam dan Nabi-Nya, kalau tidak ia akan dibunuh. Kuyuk Khan setuju. Imam itupun dipanggil dan diskusi pun dimulai, diawali soal-soal sekitar kerasulan Muhammad serta perikehidupannya dibandingkan dengan nabi-nabi lain. Akhirnya pihak-pihak yang bersekongkol makin terdesak, dan agar tidak bertambah malu, mereka lantas mengusulkan kepada raja dengan lagak ingin menguji kekhusyuan imam di dalam sholatnya menyembah Tuhan, dimana apabila dia nantinya memberikan reaksi terhadap gangguan mereka, akan cukup memberi alasan bagi mereka dan Khan untuk mengambil tindakan. Kuyuk pun segera memerintahkan imam dan beberapa orang pengikutnya untuk sholat.  Ketika imam yang penuh takwa dan kawan-kawannya persis melakukan sujud, orang-orang yang sengaja ingin menghinakan itupun mulailah memukul kepala mereka sampai mereka terjatuh di samping macam-macam gangguan lainnya. Tetapi imam beserta kawan-kawannya tetap memperlihatkan kesabaran yang tinggi sampai mereka selesai sholat. Sehabis salam, imam mengangkat tangan seraya berkata, “Muliakanlah Tuhanmu dengan penuh kerendahan hati dan jauh dari riya.” Dan setelah meminta izin mereka pun pulang””.

Arghun (1284-1291) Ilkhan ke-IV bertindak lebih kejam lagi terhadap kaum Muslimin, mencopot segala jabatan yang pernah mereka pegang dalam departemen keuangan dan kehakiman serta melarang mereka masuk ke istananya.

Di balik segala kesulitan itu, akhirnya bangsa Mongol dan suku-suku buas pengikutnya tunduk juga kepada kaum Muslimin yang telah mereka injak-injak sebelumnya. Sayangnya sedikit sekali catatan sejarah yang dapat mengungkapkan fenomena itu. Mestinya sepanjang masa Imperium Mongol itu tentulah para mubaligh Islam yang berda’wah dengan penuh dedikasi dan tanpa pamrih. Pada masa pemerintahan Ogtay (1229-1241) kita mendengar adanya seorang Gubernur Persia yang beragama Buddha, brnama Kurguz, yang pada akhir hayatnya beralih menganut agama Islam. Pada masa Timur Khan (1323-1328), Ananda, cucu Kubilai Khan dan Wakil Raja di Kan Su adalah seorang Muslim yang taat dan berjasa mengislamkan banyak orang di Tangut di samping banyak anggota pasukan di bawah komandonya. Dia dipanggil ke istana dan berbagai cara  diusahakan untuk membujuknya kembali ke agama Buddha, dank arena dia tetap menolak, maka dia dimasukkan ke penjara. Tetapi segera dibebaskan kembali karena khawatir timbulnya pemberontakan rakyat Tangut yang banyak  bersimpati kepada Ananda.

Pengarang buku Muntakhab al-Tawarikh menyebutkan bahwa Ananda membangun empat masjid di Khanbaligh (Beijing sekarang) yang dapat menampung sejuta jama’ah, tetapi kebenaran tulisan tersebut agak sukar dibuktikan.

Raja Mongol yang pertama masuk Islam adalah Baraka Khan yang memerintah di Golden Horde (1256-1267). Menurut Abdul Ghazi, Baraka Khan masuk Islam setelah naik tahta. Disebutkan bahwa dia pernah menyertai suatu kafilah dari Bukhara, dan dengan diapit oleh dua orang pedagang Muslim, dia menanyai mereka tentang Islam, yang disambut oleh mereka dengan penjelasan-penjelasan yang membuat dia secara sadar masuk Islam. Pertama kalia dia menyatakan masuk Islam itu kepada adiknya yang juga diajaknya untuk mengikutinya, baru kemudian dia mengumumkan hal itu di depan umum. Tetapi menurut al-Juzjani, Baraka Khan telah masuk Islam sejak kecilnya, dan setelah dewasa dia diajari al-Qur’an oleh seorang ulama di kota Khujand. Ahli sejarah yang menuliskan sejarah sepanjang masa pemerintahan Baraka juga menyebut bahw seluruh anggota pasukannya adalah Islam.

“Orang-orang yang dipercaya memberikan kesaksian bahwa di kalangan tentara Bukhara ditetapkan berlakunya suatu etiket bahwa setiap prajurit harus memiliki sajadah sehingga semuanya melakukan sholat tepat pada waktunya. Tak seorangpun dibolehkan meminum minuman keras, mereka selalu di samping ulama-ulama besar, ahli tafsir, hadits, dan fiqih. Baraka memiliki banyak kitab-kitab agama, dan diskusi-diskusi sering diadakan bersama ulama, dimana masalah-masalah yang dibahas berkisar mengenai hukum agama. Sebagai Muslim, Baraka Khan termasuk seorang yang saleh.”

Baraka Khan menjalin hubungan persahabatan dengan Sultan Mesir agak rakyatnya dapat hidup tenteram terhindar dari segala ancaman dan bencana, sehingga pedang dapat disimpan kembali ke dalam sarungnya.

by. Kartika Pemilia Lestari

Penulis adalah peneliti InPAS

inpasonline.com