Ulama hura-hura.” Itulah sebutan bagi mayoritas ulama Indonesia saat ini. Padahal ulama adalah orang yang mempunyai ilmu dan ilmunya itu menjadikannya takut kepada Allah. “Definisi ini tidak berubah dari dulu sampai sekarang,” papar Ketua Ikatan Dai Indonesia (Ikadi) Prof Dr Satori Ismail.

Definisi di atas, terang Satori, adalah kriteria ulama menurut al Qur’an. Karena itulah tidak ada perubahan definisi ulama. Yang ada hanyalah pergeseran kualitas ulama. “Ulama sekarang kurang berkualitas,” tandasnya. Penyebabnya adalah perubahan zaman. Atau tepatnya ‘kemunduran zaman’. Di zaman dahulu para ulama serius dan bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu dan mengamalkannya. “Jarang yang hura-hura seperti ulama saat ini,” kata Satori kepada wartawan Majalah Gontor.

Ulama-ulama terdahulu meninggalkan banyak warisan berupa kitab-kitab dan hikmah. Mereka meninggalkan jejak dari ilmu pengetahuan yang mereka miliki. Sebut saja misalnya, al-Khawarizmi dan Umar Khayyam yang meninggalkan warisan berupa aljabar, al-Kindi mewariskan aritmatika, Ibnu Haytham mewariskan trigonometri, al-Battani mewariskan sinus, tangen dan kosinus, serta Thabit ibnu Qurra dan al-Hajjaj ibnu Yusuf mewariskan geometri. Dan masih banyak ulama lain yang mewariskan ilmu pengetahuan dan bahkan teknologi dalam berbagai bidang. Mereka telah menyumbang peradaban dunia dengan karya-karya dalam bahasa Arab. “Sebagai acuan keilmuan, banyak referensi buku berbahasa Arab karya ulama terdahulu,” papar Satori.

Kini menjadi kewajiban para ulama sekarang untuk menguasai bahasa Arab agar dapat memahami karya-karya ulama terdahulu sebagai rujukan dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Karena Barat pun mengadopsi karya-karya mereka, dan bahkan menguasainya.

Satori mengatakan, meskipun Indonesia mempunyai Majelis Ulama Indonesia (MUI), tetapi tidak semua orang di dalamnya mempunyai pengetahuan sebagai ulama yang memiliki kemampuan berijtihad. ”MUI merupakan kumpulan perwakilan-perwakilan dari Ormas (organisasi masyarakat) Islam, dan jarang yang menulis. Karena memang tidak dipersiapkan dan dibiasakan untuk menulis,” ungkap Direktur Pascasarjana Universitas Islam as-Syafi’iyyah Jakarta itu.

Seharusnya, lanjut Satori, para ulama minimal menguasai bahasa Arab, fiqih, ushul fiqh, dan harus hafal al-Qur’an. Sedangkan di Indonesia jarang ulama yang hafal al-Qur’an dan pintar bahasa Arab. ”Ulama seperti ini masih langka di Indonesia,” tegasnya.

Karena itulah untuk meneladani para ulama terdahulu, kita mesti mempersiapkan sekolah- sekolah khusus yang mampu mencetak ulama. Di sekolah itu diajarkan ilmu agama, bahasa Arab, hafalan al-Qur’an, ilmu mantiq, dan ilmu dakwah. ”Dengan bekal ilmu-ilmu itu mereka tidak akan salah dalam berdakwah. Dan ilmu ijtihadnya pun akan lengkap,” tutur Satori.

Hal senada dikatakan Dr Yunahar Ilyas. Menurut salah satu Ketua MUI itu, ciri-ciri seorang ulama adalah berilmu tinggi dan memiliki sifat khasyah yaitu memiliki rasa takut kepada Allah SWT. “Walaupun dia profesor doctor dan karyanya berjilid-jilid, tapi kalau tidak memiliki rasa takut kepada Allah maka derajat keulamaannya perlu dipertanyakan,” tandasnya.

Menurut Yunahar, jika kita bandingkan ulama sekarang dengan ulama zaman dahulu memang ada perbedaan dalam tingkat keilmuan, baik fiqih, hadis, tafsir, nahwu sharaf, dan beberapa ilmu lainnya. Ulama-ulama terdahulu sangat produktif menulis dalam berbagai bidang ilmu sehingga ulama-ulama sekarang tinggal mempelajari karya-karya mereka. Dengan demikian apa yang dilakukan ulama saat ini sebenarnya lebih kepada menggali dan mengembangkan ilmu pengetahuan yang telah ditulis oleh ulama-ulama terdahulu.

Kendati demikian Yunahar tidak sepakat jika dikatakan bahwa kualitas ulama masa kini lebih rendah dibanding ulama terdahulu. “Bukan kualitasnya yang berbeda, tapi obyek yang dikerjakan memang semakin sedikit karena banyak hal sudah dilakukan oleh ulama terdahulu. Kalau orang mau menulis kitab tafsir, fiqih, dan kitab-kitab lain sebenarnya hal itu sudah dilakukan oleh ulama-ulama dahulu,” paparnya.

Menurut salah satu Ketua Muhammadiyah itu, tantangan ulama sekarang bukan pada bidang ilmu klasik berbasis kewahyuan seperti ilmu tafsir, hadis, fiqih, akidah, dan tauhid, tapi ilmu-ilmu kealaman. “Saat ini ulama sudah masuk pada era keilmuan sehingga perlu lahir generasi ilmuwan Islam,” katanya.

Ilmuwan-ilmuwan Islam ini, lanjut Yunahar, bisa lahir jika para generasi muda kembali mempelajari karya-karya ulama klasik. Sayangnya ulama saat ini lebih cenderung menjadi seorang mubaligh atau menjadi juru dakwah dibanding menjadi seorang ilmuwan.

Sebagai juru dakwah, para ulama harus bisa mengarahkan generasi muda Islam agar mau mengkaji karya-karya ulama terdahulu. “Mereka harus bisa mengasuh dan membimbing generasi muda menjadi ilmuwan Islam,” paparnya.

Namun di sisi lain, lanjut Yunahar, generasi ilmuwan Islam harus tetap waspada terhadap serangan orientalis Barat yang berupaya menjauhkan generasi muda Islam dari agamanya. Apalagi umat Islam masih mengalami kesulitan untuk mengakses karya-karya ulama terdahulu karena sebagian karya ulama tersebut dikuasai oleh orang-orang Barat. Posisi ini memaksa para pelajar Islam menerima hasil bacaan dari para orientalis untuk dipelajari. “Tentu hasilnya bisa berbeda karena disesuaikan dengan persepsi dan kepentingan mereka,” tandasnya.

Salah satu contoh, kata Yunahar, seorang mahasiswa Mesir pernah mengkritik karya Haikal karena referensi buku-bukunya lebih banyak menggunakan buku-buku Barat, bukan karya dari ulama Islam. Kritik tersebut membuktikan bahwa masih banyak sarjana Islam yang lebih senang menggunakan referensi sarjana Barat daripada karya ulama Islam.

Karena itulah Yunahar meminta para sarjana Islam agar memiliki kepercayaan diri untuk menggali karya-karya ulama terdahulu. “Jangan merasa orang Barat selalu lebih tinggi dari kita sehingga belajar Islam seolah-olah tidak hebat jika tidak belajar kepada Barat,” tegasnya.

Selain itu pemerintah harus betul-betul menyiapkan fasilitas yang lengkap dengan menyediakan buku-buku karya ulama klasik sampai modern di perpustakaan. Pemerintah juga perlu memberikan beasiswa yang cukup agar generasi ilmuwan Islam ini bisa mendalami karya-karya umat Islam terdahulu, di manapun. “Peran pemerintah sangat penting demi keberhasilan pembangunan dan peradaban masyarakat Indonesia,” ujarnya.

Menurut Yunahar, ulama memiliki peran utama untuk mendidik umat menuju peradaban Islam yang gilang gemilang.

Sementara itu mantan Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR), Dr Hidayat Nurwahid, mengatakan bahwa ulama bukan Nabi ataupun malaikat. Ulama hanya manusia biasa yang memiliki ilmu dan pengetahuan agama lebih dan memiliki kepribadian bersahaja. Karena itu meneladani para ulama, adalah dengan berinteraksi dan dekat dengannya. Begitu pun ulama, harus dekat dengan masyarakatnya agar terjadi komunikasi antara keduanya. ”Kalau kita dekat dengan ulama kita akan mudah meneladani segala perilaku ulama,” tuturnya.

Kita perlu meneladani para ulama karena ulama adalah pewaris Nabi sebagaimana hadis Nabi menyebutkan, “Sesungguhnya ulama adalah pewaris para Nabi. Para Nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Mereka mewariskan ilmu. Siapa saja yang mengambilnya, berarti telah mengambil bagian yang banyak lagi sempurna.” (HR Abu Dawud). Sebagai pewaris Nabi, para ulama tentu akan menempuh jalan kebenaran sebagaimana yang ditempuh oleh Rasulullah Muhammad SAW.

Oleh: Rusdiono Mukri, Laporan Ryan Febrianti dan Ahmad Muhajir