Lewat beasiswa pertukaran pelajar, pemerintah AS berharap para peserta membantu perbaiki citra buruk Amerika di negara Muslim

Sylvania Franseda berdiri di sebuah ruang kelas yang penuh dengan siswa kelas delapan dalam acara Biro Pendidikan Yahudi dari sekolah Hebrew High, yang digelar Selasa malam (7/12) di Ina Levine Jewish Community Campus.

“Apakah ada orang Yahudi di Indonesia?” tanya seorang siswa laki-laki dalam acara itu.

“Saya tidak tahu,” jawab Sylvania. “Saya tidak punya teman Yahudi. Jadi ini kesempatan baik bagi saya untuk mengenal kalian.”

Seorang siswa lain menanyakan tentang perbedaan antara masakan Indonesia dan Amerika.

“Di Indonesia, kami suka makanan kaya bumbu,” ujar Sylvania. “Di Amerika, orang suka makanan instan. (Di rumah) ibu saya memerlukan waktu lama untuk memasak.”

Sylvania, seorang siswa sekolah menegah di Arcadia, adalah satu dari enam peserta pertukaran pelajar selama satu tahun di wilayah Greater Phoenix. Program itu bagian dari Youth Exchange and Study (YES) melalui American Field Service (AFS). Begitu keterangan koordinator AFS YES setempat, Karen Powers. Peserta ketujuh akan bergabung dengan mereka Januari mendatang.

YES didanai oleh Departemen Luar Negeri AS. Dibentuk tak lama setelah peristiwa 9/11. Pemerintah AS memberikan beasiswa penuh kepada siswa sekolah menengah dari negara-negara Muslim melalui program pertukaran pelajar yang telah ada.sebelumnya, salah satunya yaitu AFS.

Idenya, menurut Powers, adalah untuk melenyapkan stereotipe tentang Islam di Amerika, dan ketika para siswa kembali ke tanah airnya, mereka diharapkan bisa membantu menghancurkan stereotipe tentang Amerika Serikat.

Siswa Amerika juga bisa mendapatkan beasiswa untuk belajar ke negara-negara Muslim melalui program YES.

Bagi pemerintah federal, program ini bukan yang pertama kalinya. Program beasiswa perukaran pelajar, yang sekarang dikenal dengan nama Future Leaders Exchange (FLEX), dibentuk tidak lama setelah Tembok Berlin runtuh tahun 1989, dengan tujuan membawa siswa-siswa dari bekas negara Uni Soviet ke Amerika.

Salah satu persyaratan bagi siswa YES adalah mereka mengikuti kerja sukarela. Keenam peserta tadi menjadi sukarelawan di ICM Food dan Clothing Bank di Phoenix. Persyaratan lain, pada bulan Nopember mereka harus melakukan presentasi guna menjelaskan tentang negara asal mereka.

“Saya biasanya meminta mereka bicara tentang Islam, jika mereka Muslim, dan juga tentang menjadi siswa pertukaran,” jelas Powers.

Para peserta dalam beberapa kesempatan berinteraksi dengan komunitas Yahudi. Mereka mendapat berbagai macam pertanyaan, semisal “apa persamaan antara Yudaisme dan Islam?”, “seperti apa sistem pendidikan di tempatmu?” hingga “acara televisi apa yang suka kamu tonton?”

Pada 16 Nopember lalu saja di Hebrew High, sekolah menegah yang terletak di Scottdale, mereka menemui hampir 70 siswa kelas delapan. Mereka juga menghadiri acara bat mitzvah (upacara keagamaan menandai anak perempuan Yahudi yang berusia 12 tahun memasuki pubertas, red)  di Congregation Beth Israel dan berbicara di hadapan siswa kelas tujuh dari sekolah agama CBI.

“Itu seperti berada dalam sebuah momen ajaib di mana Anda melangkah memasuki kelas dan setiap orang berhubungan,” ujar Kepala Sekolah CBI Stacy Rosenthal. “Kita bisa mempelajari agama lain dari buku teks, kita dapat melihat dari sumber online terbaik dan terbaru, tapi … mendapati anak-anak dari negara lain dan agama lain yang benar-benar datang, berbicara dan berdialog, terasa lebih relevan dan akrab.”

Kemudian juga ada kisah keluarga Friedman dari Scottdale yang menjadi tuan rumah siswa asal Turki, Sarp Senesen. Keluarga Yahudi itu bahkan mengajak Sarp menghadiri pembacaan Taurat di Kuil Solel saat Yom Kippur. Mereka mengajaknya ke altar dan membuka kitab suci Yahudi.

Siswa dari Mesir, Mahira Abdelghany, yang disekolahkan sementara di Phoenex Country, sedikit mengalami hambatan dalam kebiasaan sehari-hari.

Dalam keluarganya, melakukan pekerjaan rutin di rumah berarti menyelesaikan apa yang menjadi tanggungjawabnya kapan saja sesempatnya. Tapi di Amerika, melakukan tugas rutin berarti menyelesaikan tugasnya pada jam dan selama waktu tertentu.

Susanto Prakoso dari Indonesia, yang disekolahkan di McClintock High School, mencatat adanya perbedaan dalam pelaksaan ibadah di kalangan remaja AS dengan Indonesia.

“Kebanyakan teman sekolah saya di sini, mereka punya agama tapi jarang pergi ke rumah tempat ibadahnya,” katanya. “Di Indonesia, jika Anda seorang penganut Kristen, Anda sering ke gereja. Jika Anda Muslim, Anda sering ke masjid.”

Lantas apa yang akan dibawa pulang oleh para peserta ke tanah airnya dari pengalaman bersekolah di Amerika selama satu tahun?

“Saya beharap ketka kembali ke Indonesia, saya dapat menyebarkan saling pengertian antar agama, bahwa tidak ada agama yang lebih baik dan tidak ada agama yang buruk,” kata Susanto Prakoso.

Maherani Abdelghany berharap bisa membuat sebuah kelompok di lingkungan rumah atau sekolahnya untuk berbagi pengetahuan tentang budaya yang berbeda.

Sarp Senesen mengatakan, bertemu dengan siswa dari seluruh negara di dunia sama manfaatnya dengan mempelajari budaya Amerika.

“Sekarang saya tidak berpikir orang lain itu aneh, ketika saya melihat orang asing dari budaya yang berbeda,” ujarnya. “Ketika saya datang (ke AS), saya dulu yang aneh,” pungkas Sarp Senesen.

[di/jewn/hidayatullah.com]